Seberapa Jago Kita Mendengarkan

SUMBER : 
Di kelas-kelas komunikasi yang biasa gue fasilitasi, akhirnya kita semua sadar kalau nilai ‘Mendengarkan’ kita itu rendah sekali. Sebenarnya ini ironis, karena:
– sebagai manusia, kita itu ingin sekali didengarkan, tetapi kita ternyata belum terlalu pandai mendengarkan
– kita pikir kita sudah jago mendengarkan, tetapi sebenarnya gak juga
Coba deh, lihat teman, saudara atau sahabat. Kalau kamu beneran menghitung manusia yang benar-benar membuat kamu merasa didengarkan kalau lagi ngobrol dengan mereka, ada berapa sih? Di dunia gue saja hanya ada 4. Dari beberapa sahabat yang gue miliki saja, cuma ada 1 yang menurut gue mendengarkannya itu jago banget. Dan itu bikin gue mikir, jangan-jangan gue kurang mendengarkan juga.
Lalu, coba tanya ke diri sendiri. Setiap kali gue ngobrol sama temen/saudara/sahabat, gue beneran ‘sadar’ untuk mendengarkan dan membuat dia merasa didengarkan gak ya? Itu yang gue tanyakan ke diri gue sendiri sih. Karena gue sangat menghargai mereka yang mendengarkan gue, membuat gue merasa terdukung, gue ingin bisa jago juga.
Mengapa listening ini penting?
Well, kalau kamu memang serius untuk memiliki relationship yang kuat dan membantuk rasa percaya, kuncinya memang di listening. Kita naturally akan lebih percaya sama orang-orang yang mendengarkan kita. Karena dari mendengarkan itu terlihat bahwa mereka tidak hanya peduli tetapi juga tidak ada agenda dibelakangnya.
Karena gue pun merasakan, gue jadi semakin males cerita ataupun bergaul dengan orang-orang yang kurang bisa mendengarkan. Terasa sangat ‘me-focused’. Even though, jadi bikin ngaca juga. Apakah gue seperti itu ya?
Seperti kata Marge Pierce,  “If you want to be listened to, you should put in time listening.”
Ini ada beberapa contoh tipe-tipe yang bilangnya mendengarkan tetapi sebenarnya tidak.

1. Sambil mengerjakan yang lain (ie. main HP)

Yes, elo denger sih semua yang orang lain katakan. Loe bisa ingat setiap kata-kata yang mereka ucapkan. TETAPI, itu bukan bukti bahwa elo mendengarkan juga ketika… mereka ngomong, perhatian kita gak 100% ke orang tersebut.
Memang ada perbedaan antara ‘mendengar’ dan ‘mendengarkan’. Mendengar itu hanya menggunakan telinga. Mendengarkan itu juga menggunakan hati.
Listening is about giving 100% attention. Bukan 90%. Bukan 70%.

2. Langsung menceritakan pengalaman yang mirip.

“Eh, kemarin gue seneng banget lho ketemu sih A.”
“Oh iya, gue kemarin juga seneng banget ketemu si B. Dia itu orangnya baik banget ternyata. Gue ga sadar udah 4 jam aja kita ngobrol, sampe gue males pulang.” (Dan ini berlanjut 5 menit kemudian).
Kita suka ga sadar, ketika kita excited juga, ketika kita punya hal yang ingin kita share juga, ketika kita punya cerita yang kita rasa menarik juga…. untuk mendengarkan terlebih dahulu.
Mendengarkan itu adalah untuk lebih banyak memberikan pertanyaan dibandingkan memberikan pernyataan.
Listening is about asking questions than give statements.

3. Langsung memberikan opini/nasehat sebelum diminta.

“Iya nih, gue sebenarnya lagi bingung apakah sebaiknya gue tutup saja perusahaan ini atau gue teruskan.”
“Kalo gue sih gue tutup aja, karena untuk apa gue melakukan sesuatu yang gue gak happy. Toh nantinya gue juga stress.”
Lah. It is not about YOU, cuy! Yes, gue baru bilang cuy.
Mendengarkan itu bukan tentang elo, bukan tentang pendapat loe atau  apa yang baik buat elo. Toh temen loe juga belum minta pendapat/nasehat. Dia baru mengutarakan perasaannya. Apa yang terjadi dengan empati? Kemana Ia telah pergi?
Listening is about emptying our minds from judgements, opinions and advises and focusing on the other person.

4. Tidak berempati.

Jadi, kalau temen loe sedang mengutarakan situasi/perasaannya seperti contoh di atas, mari kita coba melatih reaksi kita itu dengan empati atau support, seperti…
“Gue gak bisa bayangin sih, keputusan seperti ini memang gak mudah. Apakah ada yang bisa gue bantu?” atau…
“Duh, kalo gue ada di posisi loe mungkin gue akan lebih bingung lagi. But gue tau elo selama ini selalu kuat dan bisa memanaj situasi. And you are not alone. Elo punya gue untuk bantu.”
To listen is to extend empathy and give support.

5. Malah menghakimi.

“Iya, gue tuh bingung banget ketika dapat email itu dari elo. Gue jadi mikir, gue salah apa ya?”
“Kok lo jadi negative thinking gini sih? Gue merasa emang elo akhir-akhir ini semakin bitter ya.”
Nahloh. Ngomong apa tapi dijawab apa. Lucu ya.
Kita juga gak sadar nih ketika melakukan ini.
There is no judgement in listening.

6. Ikutan curhat

“Asli, gue capek banget hari ini.”
“Iya sama, gue juga capek banget. Mana bos BM pula. Gue udah mau pulang akhirnya harus balik lagi deh.”
Selesai. Kita lupa untuk memahami kenapa teman kita itu capek. Yah mungkin karena kita capek juga ya. Jadi kita miss kesempatan untuk mendengarkan orang lain.
Listening is about the willingness to understand something, or someone.

7. Menanyakan pertanyaan yang sama. Tapi gak sadar.

“Eh, elo tinggal dimana?”
“Kan tadi elo udah nanya bro. Di Rempoa.”
“Oh udah ya?”
Ada sih beberapa orang yang memang seperti ini. Mereka suka lupa sudah mengatakan atau menanyakan sesuatu. Bagus kalau ada yang mengingatkan bahwa mereka sudah sempat nanya dan lupa.
Kalau kata bokap gue, lupa itu artinya tidak peduli. Parah. Sementara gue orangnya pelupa. #jleb
Listening is about remembering the little things. Listening is about caring.
Naaaah….. kalau sama temen-temen gue, gue suka bilang… “Bok, kalo gue melakukan ini tapi gak sadar, ingetin gue ya. Toyor juga boleh. Atau pake kode deh #listenfirstplease.” Karena yah, namanya juga belajar ya, ada masa-masanya gue khilaf. But hopefully, I can be a better listener for my loved ones.
Elo suka khilaf dimana? Dari sekitar loe apa yang loe temukan tentang listening? Share ya :)
- See more at: http://theunlearn.com/blog/7-tanda-tanda-kamu-merasa-sudah-mendengarkan-padahal-belum/#sthash.uoYg0Ynw.dpuf
Seberapa Jago Kita Mendengarkan Seberapa Jago Kita Mendengarkan Reviewed by ilham.sp on June 08, 2015 Rating: 5

No comments:

Notice

This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalise ads and to analyse traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies.Learn More

Powered by Blogger.